Tanpa Sambal, Makan Tak Bergairah
Cari Berita

Tanpa Sambal, Makan Tak Bergairah

Destinasi Nusantara
Minggu, 14 Oktober 2018

Sambal Cibiuk - Siapa pun pasti tahu dan kenal sambal. Rasanya kurang lengkap jika makan tanpa sambal. Penggugah gairah makan ini selalu hadir saat kita menyantap waktu makan, khususnya di waktu santap siang.

sambal Cibiuk memiliki cita rasa yang berbeda dengan sambal lain. Rasanya memang pedas, tetapi meninggalkan panas di bibir.
Lesatnya Sambal Cibiuk
Saat ini rasa sambal bukan hanya semacam. Dengan perkembangan pariwisata yang sudah mendunia dan perkembangan pendidikan perhotelan yang di dalamnya termasuk ilmu memasak juga kian berkembang.

Dari dunia perhotelan dan pariwisata lahir banyak Chef yang mahir dalam mengolah masakan dan makanan dan masing-masing memiliki ciri khas karena kreativitasnya dalam menciptakan menu masakan.

Sambal saja sudah banyak variannya yang dimodifikasi dari daerah asal sebagai menu yang diandalkan. Misalnya, sambal terasi dari Lombok sudah banyak penikmatnya seperti sambal bajak udang dan sambal pelecing kangkung.

Sambal ini telah telah demikian digandrungi oleh penikmatnya berkat racikan chef. Apalagi pada saat berbuka puasa dipastikan nikmat dan menimbulkan gairah makan, tetapi jika makan sahur tidak masalah tanpa sambal juga. Kalau pun mau menyantapnya, sambal harus digoreng sehingga rasa pedasnya hanya untuk menggairahkan makan.

Aneka sambal lain yang oleh penikmatnya ada perasaan tak bergairah jika makan tanpa sambal, yakni sambal kemiri dan tomat hijau, sambal leunca dan sambal goang.. Aneka sambal yang selalu ada di rumah-rumah makan atau restoran khas, memiiki aroma tersendiri yang membuat penikmatnya bergairah makan.

Sambal Cibiuk


Dari sekian banyak sambal yang beredar di setiap rumah makan atau restoran, di wilayah Jawa Barat sudah sambal Cibiuk memiliki cita rasa yang berbeda dengan sambal lain. Rasanya memang pedas, tetapi meninggalkan panas di bibir.

Cita rasa khas ini tercipta karena turunan dari generasi ke generasi yang semula hanya dinikmati oleh warga Cibiuk di Kab. Garut. Akhirnya sambal ini menjadi santapan di luar generasi Eyang Fatimah. Penikmatnya bukan hanya orang Cibiuk saja melainkan sudah dinikmati oleh masyarakat luas.