Kawah Putih Eksotisme Bandung Selatan
Cari Berita

Advertisement

Kawah Putih Eksotisme Bandung Selatan

Destinasi Nusantara
Selasa, 13 November 2018

Kawah Putih Eksotisme Bandung Selatan - Dari sekian banyak usulan teman-teman, kebanyakan mengarah ke Bandung Selatan. Akhirnya saya putuskan pergi ke sana dan semua keperluan disiapkan. Luar biasa. Hari ini begitu cerah. Langit terlihat biru bersih tanpa awan hitam. Bisa jadi petualangan yang menyenangkan nih..!


Bandung selatan memiliki struktur geografi mirip dengan Bandung utara. Sama-sama berupa pegunungan dan hutan. Perbedaannya adalah komponen alam serta kekhasan lainnya seperti kebiasaan masyarakatnya. Jika di Bandung Utara terdapat Gunung Tangkuban Parahu, di Bandung Selatan atau tepatnya di kawasan Ciwidey ada Kawah Putih. Tempat yang terkenal eksotik itulah tujuan jalan-jalan saya kali ini.

Kawah Putih


Sekitar satu jam waktu untuk mencapai Kawah Putih. Pemandangan alam yang elok masih sering saya temukan di sepanjang jalan yang bekelok. Sayangnya jalan menuju ke sana relatif sempit. Bukan karena padatnya arus kendaraan, tapi memang ukuran jalannya yang kurang lebar, terutama setelah melewati kawasan alun-alun Soreang.

Pesona kawah putih dan gunung patuha serta manisnya kalua jeruk bisa anda nikmati di bandung selatang saat liburan dan tahun baru.
Eksotisme Kawah Putih

Alhasil, saat sebuah bis melewati tikungan, kendaraan dari arah berlawanan harus mulai mengurangi kecepatan jauh sebelum sampai pada tikungan yang sama. Tapi inilah Jawa Barat. Samping kiri dan kanan jalan masih dihiasi tebing dan jurang yang curam. Meski terlihat menyeramkan, tapi sungguh memberikan pemandangan yang alami dan mengasyikan.

Sampai di pasar Ciwidey tampak beragam oleh-oleh khas terpajang di sana. Tapi nanti saja kalau mau memborong saat pulang. Tak terasa kendaraan pun mulai memasuki kawasan hutan. Ruas jalan mulai mendaki. Di sisi kanan dan kiri mulai tampak pepohonan berdiri tegak menjulang. Saya pun melihat arah petunjuk jalan menuju Kawah Putih.

Sampai juga akhirnya di depan gerbang Kawah Putih. Gerbang yang berada di area datar ini memiliki suasana yang luar biasa memikat. Sambil menikmati semilir angin pengunungan, tenggorokan segera saya basuh dengan orange juice yang dibawa dari rumah. Waaah…segarnya. Andai saja bisa hidup seperti ini setiap hari dengan lingkungan yang bersih dan makanan serta minuman bergizi.

Puas menikmati pemandangan di luar, saya lanjutkan perjalanan memasuki gapura. Kawah Putih merupakan danau kawah yang terbentuk di atas Gunung Patuha dengan ketinggian 2.434 meter di atas permukaan laut. Konon kawah tersebut terbentuk akibat letusan Gunung Patuha sekitar abad ke-10 dan abad ke-12.

Banyak sekali cerita yang mengiringi popularitas dari Kawah Putih, di antaranya tentang asal usul nama gunung Patuha yang menurut masyarakat berasal dari kata Pak Tua. Akses menuju kawah lumayan jauh dari gerbang tempat saya menikmati minuman tadi. Cenderung mendaki hingga kendaraan harus ektra tenaga. Bahkan untuk sepeda motor disarankan menggunakan gigi satu.
Back to Content


Gunung Patuha


Dahulu Gunung Patuha terkenal sangat angker. Banyak cerita yang beredar bahwa tak ada seekor burung pun yang berani terbang di atasnya. Sampai akhirnya seorang Belanda yang lahir di Jerman bernama Dr. Franz Wilhelm Junghuhn memecahkan misteri tersebut pada sekitar tahun 1809.

Pesona kawah putih dan gunung patuha serta manisnya kalua jeruk bisa anda nikmati di bandung selatang saat liburan dan tahun baru.
Gunung Patuha dan Kawah Putih

Demi sebuah penelitian, Junghuhn menembus Gunung Patuha sampai ia menemukan sebuah danau kawah yang indah. Dengan beberapa fenomena seperti bau belerang dan semburan gas yang menusuk hidung, Junghuhn menyimpulkan bahwa fenomena alam inilah yang membuat hewan seperti burung enggan mendekat atau bahkan terbang melintas di atasnya.

Saat ini masyarakat dan para wisatawan hanya tahu jika kawah yang terdapat dipuncak Gunung Patuha begitu indah. Jika dilihat lebih detail lagi ada banyak pemandangan yang bisa membuat kita takjub. Jika sudah begini, rasanya jauh dari sifat serakah akan eksploitasi dan perusakkan alam, yang ada malah hati tak henti-hentinya bersyukur atas kekuasaan dan kehebatan akan maha karya sang Pencipta.

Banyak pengunjung yang berdatangan dari dalam dan luar kota. Bahkan tak sedikit rambut pirang dan kulit kemerahan yang menandakan wisatawan asing turut berbaur menikmati keindahan Kawah Putih. Beberapa sudut di area ini sangat bagus untuk pengambilan foto. De-ngan bantuan rekan, saya coba beberapa pose pemotretan untuk koleksi pribadi atau sekedar upload ke facebook seperti anak-anak gaul. Sedikit agak narsis sepertinya tak masalah, haha…!

Hamparan belerang dan bebatuan berwarna putih lumayan sangat unik, hampir mirip pasir putih di tepi pantai. Terlebih di ujung hamparan ini juga terdapat genangan air (danau) yang berwarna kehijauan yang menurut cerita warna ini dapat berubah-ubah tergantung cuaca dan cahaya matahari. Tapi jika tengah hari seperti ini pantulan cahaya matahari bisa menyilaukan mata. Untungnya saya tak pernah lupa membawa kacamata berwarna gelap, jadi cukup aman sekaligus bisa bergaya.

Keindahan kawah memang bukan sekedar cerita belaka. Hari ini saya membuktikannya. Hamparan belerang dan pasir berwarna putih, air danau yang biru kehijauan serta hutan yang mengelilingi sungguh satu perpaduan yang sangat sempurna. Tak terasa sekitar dua Jam saya berada di tempat ini. Puas sekali rasanya menikmati pemandangan Kawah Putih, beragam cerita sudah terbukti meski ini baru beberapa bagian dari eksotisme Bandung Selatan.

Saatnya pulang, berbagai perlengkapan seperti kamera siap dikemas. Tak lupa sampah bekas makanan dibuang ke tempat yang disediakan pengelola objek wisata, jangan sampai alam nan indah ini kotor akibat ulah kita. Tepat pukul 14.00 saya meluncur menuju Bandung, ada yang menanti di pasar Ciwidey. Ya, oleh-oleh khas daerah ini.

Namun sebelum menuju pasar, saya mampir ke salah satu perkebunan strawberry yang terhampat di sepanjang jalan. Di sini saya bisa memetik buah strawberry segar sepuasnya, langsung dari kebunnya pula. Ingin sekali menikmati jus dan aneka olahan berbahan strawberry di sana, tapi mungkin lain kali saja dengan waktu yang lebih khusus lagi.
Back to Content


Kalua Jeruk


Sejak dahulu Ciwidey terkenal dengan kalua jeruk. Sejenis manisan kering yang terbuat dari kulit jeruk bali. Rasanya manis legit, bagian luarnya yang kenyal seperti agar-agar kering sangat cocok dinikmati dengan teh hangat. Makanan unik dan khas ini saya dapatkan di pasar Ciwidey yang pembuatannya masih sangat tradisional. Saya pun langsung membeli bebrapa bungkus untuk dibawa pulang.

Pesona kawah putih dan gunung patuha serta manisnya kalua jeruk bisa anda nikmati di bandung selatang saat liburan dan tahun baru.
Manisnya Kalua Jeruk

Sebenarnya banyak sekali oleh-oleh khas Ciwidey selain Kalua Jeruk, di antaranya ada borondong dan kurupuk yang hanya ada di Ciwidey. Puas rasanya saya berbelanja oleh-oleh, tinggal perut keroncongan yang harus segera diselamatkan. Aaaah…saya teringat dengan bebek panggang yang ada di Jalan Kopo.

Setengah jam cukup kuat untuk menahan lapar sampai di rumah makan Bebek Gentong yang berada di Jalan Kopo Katapang. Pak Indra, sang manager menyambut saya dan tak banyak buang waktu lagi menu andalan Bebek Gentong siap di meja. Bebek panggang di sini memang luar biasa nikmat, dagingnya empuk dan tidak berbau amis/anyir.

Inilah menu yang Pak Indra jagokan di rumah makan yang dikelolanya ini. Soal rasa, memang mantap. Waktu menunjukkan pukul lima sore, saatnya pulang. Terima kasih Tuhan, beribu kenikmatan telah kau anugerahkan hari ini kepadaku.


Penutup


Demikian artikel edisi wisata nusantara di Bandung selatan tentang kawah putih eksotisme bandung selatan kali ini. Silahkan jejaki dan nikmati pilihan destinasi di kota tersebut.
Back to Content